SHUUDAN ISHIKI 集団意識


 Shudan Ishiki: Japanese Group Consciousness
Shuudan : Kelompok
Ishiki   : Kesadaran

       Pada bab ini disebutkan bahwa masyarakat Jepang sangat menjaga keharmonisan hubungan dalam kelompok. Mereka menempatkan kepentingan kelompok lebih penting daripada kepentingan pribadi. Loyalitas yang tinggi terhadap kelompok akan menimbulkan sikap solidaritas dan menimbulkan konsep kesadaran berkelompok yang menjadi fondasi dalam hubungan masyarakat Jepang.

      Perbedaan antara negara barat dan Jepang terlihat dari komunikasi non-verbalnya. Pada sistem masyarakat Jepang, orang-orang Jepang rukun, sifat mau bekerjasama lebih diutamakan, dan sikap tidak mudah menyerah. Sehingga masyarakat Jepang dapat memanipulasi honne (apa yang dimaksudkan) dan tatemae (apa yang yang dikatakan) tergantung pada situasi yang sedang terjadi. Masyarakat Jepang akan lebih memilihi diam, daripada mengatakan yang sesungguhnya jika hanya akan menyakiti perasaan orang lain, mengacaukan sistem kelompok, dan mengacaukan hubungan dengan orang lain.

       Masyarakat Jepang terdiri dari berbagai macam kelompok independen, yang masing-masing memiliki kesamaan pemahaman. Orang-orang yang memiliki pemahaman yang sama ini disebut uchi, sedangkan yang tidak memiliki pemahaman yang sama disebut soto. Disini terlihat jelas perbedaan antara uchi dan soto. Uchi terbagi menjadi dua kategori, yakni grup yang memiliki kedekatan yang sangat tinggi dan memiliki hubungan yang kuat antara satu dengan yang lain sehingga terkesan ekslusif. Sedangkan kategori kedua yakni hubungan kerabat maupun saudara jauh. Sedangkan soto berisikan orang-orang yang datang hanya sesekali saja, misalnya untuk urusan bisnis.

        Tidak salah lagi, bahwa kehidupan berkelompok di Jepang dapat dikatakan sangat tinggi, karena masyarakat Jepang beranggapan bahwa hidup berkelompok memiliki keuntungan tersendiri dan merupakan hal yang sepantasnya dilakukan. Jika mereka menganggap diri mereka sebagai individu, di mana mereka berfikir bahwa individu merupakan sebuah unit yang tidak berdaya dan saling bermusuhan, mereka akan merasa tidak aman dan tidak bahagia, karena itulah mereka lebih senang untuk dapat menjadi anggota suatu atau beberapa kelompok. Hal ini menimbulkan sikap solidaritas yang tinggi, yang juga memiliki dampak baik dan buruk. Contohnya, solidaritas yang tinggi ini memunculkan sifat kooperatif dalam kelompok, namun sayangnya sifat kooperatif juga dapat dilakukan untuk melakukan tindakan kejahatan.

     Sifat kesadaran berkelompok dan solidaritas yang sangat tinggi yang dimiliki masyarakat Jepang membawa banyak keuntungan bagi Jepang. Jepang, yang kondisi dalam negerinya sempat carut marut pada saat Perang Dunia II, dapat membenahi kondisi politik, ekonomi, dan pembangunannya dengan begitu cepat dengan mengubah negaranya dari negara agraris menjadi negara industrialis, bahkan lebih cepat dari negara-negara Eropa yang kalah perang seperti Jerman. Keajaiban dalam memperbaiki kondisi dalam negeri ini tidak lepas dari peran masyarakat yang sangat menjunjung solidaritas berkelompok yang membentuk suatu ikatan kuat untuk dapat bersama-sama membangun negara Jepang. Rasa kebersamaan dan solidaritas yang tinggi dalam berkelompok ini menciptakan suasana satu tim kerja yang solid dan membantu mengendalikan perselisihan yang biasa timbul dalam suatu kelompok. Msayarakat jepang juga selalu berusaha menyukseskan program kerja dengan cara memberikan penghargaan kepada setiap orang dalam kelompok, dan membuat mereka merasa bahwa setiap orang menghargai usaha mereka. Bentuk kerja sama ini adalah bentuk yang paling penting dari kepribadian orang Jepang dan juga menjadi salah satu alasan mengapa orang Jepang sangat suka bekerja keras. Dan sifat dasar masyarakat Jepang yang satu ini pun membuat Jepang untuk dapat dengan cepat membenahi diri pasca peristiwa gempa dan tsunami yang terjadi pada bulan Maret 2011 lalu.

sumber : The Japanese Mind Book

Komentar

Postingan Populer