That Pain

....

Kira-kira sekitar tahun 2009 yang lalu, aku pertama kalinya mengetahui betapa,seriusnya penyakit diabetes dan apa itu cuci darah.

Tulisan ini mungkin mewakili para penderita dan keluarga "pasien".

Waktu itu Papi divonis gagal ginjal oleh dokter. Sebelumnya ternyata aku baru tahu jika papi mnderita diabetes. Setelah itu mami bercerita padaku, karena gaya hidup papi yg tdk sehat , terlebih papi memiliki riwayat kaluarga yg turun temurun diabet, ia sekarang hrs menanggung akibatnya.

ya, itulah awal dmn papi harus menjalani cuci darah atau hemodealisis , selama 2x seminggu. Cileungsi -Gatot Subroto, Senin dan kamis.

dulu waktu aku blm tahu ttg proses cuci darah papi, aku pikir diabet adlh penyakit yg sgt mengerikan dan menguras kantong orang tuaku. Sampai2, aku trpaksa memberitahu tmn2ku bhwa aku tdk sanggup mbayar buku tahunan SMP krn prioritas uang kami untuk mbeli obat dan keperluan papi.

ya, itu memang benar. aku tdk berbohong sedikit pun. papi memang mengidap penyakit itu dan sekarang ia hrs terjaga setiap malam dg pikiran "kapan saatnya tiba" menghantui tidurnya.

Penderita Gagal ginjal memang bisa jg dikarenakan pasien yg telah terkena diabet. Secara medis mungkin aku tdk tahu apa dan knp jelasnya, tp yg kutahu sistem penyaringan di ginjal kita sudah tdk lagi berfungsi dg baik.

Papiku hrs makn makanan yg mengandung zat besi agar ia tdk lemas. Atau ia jg hrs membatasi asupan air d dlam tubuhnya. Jangan pikir papiku akan minum air sehari 8 gelas ya... ckck. ia hnya bs minum setengah gelas saja bahkan mungkin seperempat gelas setiap ia haus.

Apabila ia kelewat batas, alhasil pembengkakan pd tubuhnya lah yg akan terjadi.

seperti onggokan mayat yg berisi air.

...

Di rumah sakit bnyk org yg kutemui senasib dg papi. ya, mereka rata2 bermuka muram, pendiam, tp ada jg yg berusaha tertawa seakan tak merasa sakit. Tapi sesungguhnya aku tahu bgaimana isi hati dan pikiran mereka.

"kapan jarum besar ini enyah dr hadapanku, dr tubuhku..."

"kapan saatku tiba?"

aku tahu.... karna sewaktu2 , kapan saja mereka dpt berhenti brnafas.

bahkan saat itu jg, saat proses cuci darah itu berlangsung.

satu per satu, tmn2 papi gugur. aku hanya takut jika saat itu tiba, acap kali aku perhatikan denyut nadi dan hembusan nafasnya saat ia tdr, di rmh ataupun d RS.

terkadang aku kasihan, ia terlihat sgt kesepian. merasa hdpnya tak diharapkan dan tak berarti. aku, sbg anaknya pun tak bnyk menemaninya di kala senggang.

aku terlalu sibuk dg urusanku sendiri.
papi hanya minta aku drmh , ada drmh saja cukup. melihatku ada d kamar, ruang tamu, atau saat sdg makan.

tak hrs menemaninya berbincang... tak apa, krn papi cenderung diam. entah apa yg dipijirkannya...

terkadang ia membuat lelucon, jayus memang hha. tp aku berusaha memvuat itu tampak lucu.

Aku anak pertama pi, anak yg kau banggakan. Tapi aku tdk seperti yg kau harapkan. Aku tdk bs mengurusmu dg segenap hatiku. Aku tidak bs mengurangi bebanmu. bahkan apa gunanya aku bs menyetir mobil jika aku tdk bs mengantarmu pergi ke RS?
apa gunanya aku sbg wanita jika aku hnya bs pergi sana sini bkn mengurus rumah.

papi... janganlah berkecil hati krn penyakitmu. Janganlah kau salahkan Tuhan , janganlah kau sakiti hati mami krn kau begini. Mami, istri dan ibu yg aku sangat hormati. Ia selalu ada d sampingmu, suka maupun duka.

Mami rela menelan segala caci makimu dikala kau putus asa, mami rela tdk mendapatkan apa yg bs ia dapatkan hnya krna ia setia padamu. Ia melihat pada papi, padaku dan rara. Ia selalu mengeraskan hati, menguatkan hati demi kita. Mami tak sedikitpun berpaling.

Aku lah yg tak bs membantunya, membantu papi dan mami. maafkan kakak ya. Kakak belum bisa mengerti kalian. Kakak belum bs menerima kenyataan seperti ini.




Komentar

Postingan Populer