"Haru"
おはようございます! hai sahabat-sahabtku .... pada kesempatan kali ini saya akan menulis sebuah cerpen yg sudah lama ingin saya tuangkan... semoga bisa menghibur dan menginspirasi ya... 😊
...
sebuah bus berhenti, akhirnya bus yang kutunggu datang juga. aku bangkit dari tempat dudukku, saat itu tiba-tiba sesosok wanita berambut panjang berdiri di ambang pintu masuk bus. sedang apa orang ini? tidakkah ia berpikir kalau ia menghalangi jalanku?
"maaf, permisi...," ujarku. wanita itu pun pergi dan berdiri di pingir halte, memandang ke tengah jalan. aku pun memasuki bus dan duduk di dekat jendela. memandangi wanita itu, sepertinya ia sedang menunggu. entah menunggu siapa atau apa, tatapannya tertuju pada jalanan yg sepi.
Keesokan harinya di perpustakaan kampus, aku sedang membaca buku untuk bahan ujianku dan tiba-tiba ada seorang lelaki terjatuh dari kursinya. Aku yg duduk paling dekat dengannya saat itu langsung menolongnya. "Apa kau baik-baik saja?" kataku sambil berusaha mendudukkannya di kursi. "Ya,teima kasih...."
setelah membantunya duduk,aku kembali ke kursiku. Aku memang tidak mengenalnya,tapi beberapa kali aku pernah melihatnya di sini. Aku pikir mungkin dia dari fakultas lain.
Hari semakin sore dan sore pun menjelang malam. Aku segera berkemas pulang,seperti biasa aku selalu menunggu bus pukul 8 malam di halte depan kampus. Saat busku datang wanita berambut panjang yg kulihat kemarin itu datang lagi. Ia turun dari bus dan berdiri di pinggir jalan di halte. Sampai bus berjalan,ia masih berdiri di sana. Dari dalam bus aku memperhatikannya dengan penasaran. Gadis itu memandangi jalan di depannya dengan sedih,seakan sangat berharap sesuatu datang. Entah apa yg diharapkan gadis itu, tapi aku seakan bisa merasakan kesedihannya.
Paginya aku terbangun dari tidurku dg perasaan aneh. Semalam aku bermimpi aneh,ada sebuah tangan terkulai lemas di samping tempat tidur. Aku tidak tahu tangan siapa itu dan di mana aku saat itu. Mimpi yg sangat aneh namun seakan aku terlibat di dalamnya. Hari demi hari berlalu dan aku tidak tahu apa yg terjadi padaku karena terus memikirkan mimpi itu,seakan mimpi itu sebuah magnet yg menarikku ke dalamnya. Beberapa hari ini aku tidak lagi pulang dengan bus,seorang teman menitipkan motornya padaku karena sdang keluar kota sehingga aku menggunakan motor itu selama pergi kuliah.
"Maaf... boleh aku duduk di sini?" Lelaki yg waktu itu aku tolong rupanya. "Ah ya... silakan,"ujarku. "Kulihat kau sering ke perpustakaan..."ujarnya. "Ya... aku memang suka ke sini,"kataku membenarkan. Lelaki itu tersenyum padaku. "Apa kau mahasiswa di sini?"tanyaju. "Hmm... dulu, aku sudah tidak di sini lagi," matanya kemudian tertuju ke jendela.
"Oh begitu,jadi... apa kau alumni?"
Dia menggeleng dan menatapku. "Aku pindah beberapa tahun lalu ke Inggris,aku meneruskan kuliahku di sana hingga lulus." "Wah pasti rindu yg membawamu ke sini,"kataku bergurau.
Lagi-lagi lelaki itu tersenyum. "Kau benar...."
aku pun ikut tersenyum mendengarnya.
"Kau berasal dari fakultas apa?"tanyanya kemudian. "Seni... aku bermain piano." Dengan malu-malu aku menjawab. "Piano... dulu aku memainkannya...,"ujarnya lirih.
"Benarkah?apa kau jg dari fakultas seni musik?" Tanyaku antusis. Ia tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Aku mengambil seni rupa. Aku melukis..."
"Oh begitu, jadi... apa sekarang kau pelukis?"
"Ya seperti itulah." Tak terasa hari pun semakin sore dan kami berbincang panjang lebar. "Sampai nanti"
"Ya sampai nanti,"ujarku. Lelaki itu berjalan menuju parkiran,membelakangiku. Sesaat aku berpikir, kami belum memeperkenalkan nama kami masing-masing. Aku pun berlari mengejarnya hingga ke parkiran,tapi ia terlalu cepat dan aku kehilangan dirinya.
Mungkin kami memang tidak ditakdirkan saling mengenal lebih jauh, keluhku. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi mengambil motorku dan segera pulang.
Di perjalanan pulang dengan motorku, aku melewati halte di mana biasanya aku menunggu bus. Karena malam itu sedikit mengantuk,aku hampir saja menabrak seseorang. Kuhentikan motorku dan kupandangi gadis di depanku dengan terkejut. "Apa kau tidak apa?!" Aku pun segera turun dari motorku ,"maaf aku tidak fokus karena mengan... tuk,"wajahku membeku setelah melihat gadis itu sudah tidak ada di depanku. Ke mana perginya gadis itu?
Kulihat sekelilingku,tidaj ada seorang pun di sana kecuali aku. Jalanan pun sepi dan hanya ada sebuah bus yg baru saja melintasi jalanan. Aku mulai merinding dan bergegas menuju motorku.
"Aku merindukanmu..."
Apa maksud dari mimpi itu?
"Aku merindukanmu...."gumamku lirih. "Aku juga!"
Aku menoleh ke arah suara itu. "Randy!?" Seruku pada seorang lelaki yg berdiri di depanku. "Aku juga merindukanmu,"ujarnya sambil membentangkan tangannya lebar-lebar. Aku pun langsung melompat ke pelukannya tanpa menghiraukan seisi perpustakaan.
"Adikku ternyata sudah bertambah tinggi,"ujar kakakku sambil mengelus kepalaku. "Kakak, kenapa kau tidak menghubungiku ?"
Betapa senangnya aku ketika melihat kakakku yang sangat kusayangi ini datang menemuiku. Randy adalah kakak laki-laki satu-satunya yg aku punya. Ia adalah satu-satunya keluarga yg aku miliki. Selama ia bekerja di Jepang, ia selalu mengirimkanku uang untuk biaya sehari-hariku di sini. Ia percaya bahwa suatu saat aku akan menjadi sesukses dirinya atau bahkan melebihinya.
Hari itu kami menghabiskan waktu bersama-sama sambil berkeliling kampus dengan motorku. Kakakku tidak percaya aku bisa mengendarai motor. Hahaha. Katanya di Jepang jarang sekali wanita bisa mengendarai motor. Bahkan karena ia ingin melihatku mengendarai motor,akhirnya saat itu akulah yg mengendarai dan ia duduk dengan gembira di belakangku.
"Apa kau sudah memiliki kekasih?"tanya Randy dengan nada menggoda. "Sayangnya sih tidak...."
"Apa?!"
"Hei apakah semengejutkan itu ya?"
"Kau tidak jelek dan tidak bodoh,kenpa tidak ada lelaki yg tertarik padamu?"
Kami pun tertawa bersama mendengar percakapan kami sendiri. Piano, segalanya bagiku setelah kakakku. Di hidupku kakakkulah prioritas pertama dan piano adalah hal yg memebuatku bertahan setelah kakakku pergi meninggalkanku.
"Apa yg kau lakukan selama di Jepang?"tanyaku saat kami bersantai di ruang tengah. "Terlalu banyak untuk kuceritakan,"ujarnya dengan senyuman di wajahnya. "Ayolah, kau kan tak pernah bercerita tentang kehidupanmu selama di sana. Sekalinya kau mengirimiku email atau pesan kau hanya menasihatiku."
"Haha... baiklah... sebenarnya aku memang sudah banyak melakukan banyak hal di sana yg tidak bisa kuceritakan padamu secara gamblang. Akan tetapi, kenapa aku bisa ada di sini sekarang adalah karena takdir."
"Maksudmu apa?"tanyaku bingung.
"Aku mendapat izin untuk menetap di sini bersamamu, karena ada seorang pelukis muda yg naik daun memutuskan menggelar pameran di tempat ini. Kebetulan pelukis itu juga berasal dari sini dan pihak agensinya memilih perusahaanku untuk mengurus kerja sama kami dengannya. Jadi aku bisa kembali bersamamu lagi sekarang tanpa menghiraukan pekerjaanku,"jelasnya.
"Itu bagus sekali... aku sangat senang akhirnya bisa bersamamu lagi kak."
Hari demi hari berlalu dengan kebersamaabn kami yg sudah lama kunantikan. Aku dan Randy sangat bahagia karena akhirnya bisa bersama kembali. Di hari pertunjukan musikku yg pertama aku mengundangnya sebagai wali sekaligus tamu isyimewaku. Aku senang ia bisa melihat pertunjukan perdanaku. Ini adalah pertunjukan solo pertamaku setelah sekian lama. Jika pertunjuka ini berhasil dan memukau para pengunjung dan juri maka aku dianggap lulus ujian. Tak hanya itu aku akan direkomendasikan untuk mengikuti pertunjukan pianis ternama di negri ini. Randy sangat bangga padaku hari itu. Ia meneteskan air matanya ketika aku memainkan jemariku di atas tuts piano. Tidak hanya dirinya, aku pun terharu hampir meneteskan air mata ketika itu. Semua yg kulakukan untukku dan kakakku akhirnya terbayar sudah. Tak lama aku pun diwisuda dan menjadi lulusan kedua terbaik di fakultasku.
"Kamelia... selamat atas semua pencapaian yg telah kau capai hingga saat ini,"ujar kakakku sambil memberikan sebuah amplop padaku. "Apa ini?" Aku pun membuka amplop itu dan ternyata isinya adalah sebuah undangan untuk sebuah paneran lukisan yg diselenggarakan olehnya. Ia akan mengajakku ke acara yg diselenggarakan olehnya dan perusahaannya di mana seorang pelukis yg pernah ia ceritakan dululah yg menjadi bintang utamanya.
Pameran itu sangat megah dan indah paduan suasana malam dan bunga-bunga yg berasal dr seluruh penjuru dunia menghiasi seisi ruangan. Bahkan ada sebuah taman di tengah-tengah ruang pameran dan di sekelilingnya terpampang beberapa lukisan seorang gadis yg sedang bermain piano membelakangi pengunjung.
"Lukisan ini terlihat misterius,"ujarku pada Randy. "Ini adalah lukisan paling berharga dari sang pelukis,"jelas kakakku.
Kakakku pun mulai bercerita, ia mendengar bahwa sang pelukis dahulu pernah memainkan piano dan gadis itulah yg memperkenalkannya pada piano. Tak lama ia terpaksa harus menempuh pendidikan di Inggris dan berpisah dengan gadis itu. Akan tetapi,tak disangka pelukis itu mengalami kecelakaan sebelum pergi ke Inggris. Ia lalu kehilangan komunikasi dengan sang gadis. Entah ada di mana sang gadis saat ini. Pelukis itu pun tak pernah mendengar kabarnya lagi.
"Menyedihkan... siapa nama gadis itu?"tanyaku pada Randy. Ia hanya mengangkat bahunya tidak tahu.
"Haru..."
aku dan kakakku menoleh ke arah suara yg datang dari belakang kami. "
"Leo?"sapa kakakku pada lelaki itu. "Hai.... senang bertemu lagi,"ujar Leo padaku. "Jadi kau sudah mengenal adikku?"tanya Randy pada Leo.
"Jadi... kau pelukis itu...?" Kataku sambil menatapnya malu.
"Ternyata dunia ini sempit sekali ya, aku mengenalmu di kampus lamaku dan kita bertemu lagi di tempat ini. Sebelumnya kita belum berkenalan kan. Aku Leonard,"ujarnya sambil menjabat tanganku. "Aku Kamelia... senang bisa berkenalan denganmu."
Tak lama setelah itu Randy pergi meninggalkan kami berdua, ada pekerjaan yg harus ia urus. "Jadi apa kau tertarik dengan lukisan ini?"tanya Leon melirik ke lukisan gadia itu. "Ah..bukan begitu. Aku hanya tertarik dengan cerita di balik lukisan ini,"jawabku.
"Kau tahu, Haru berarti musim semi. Itu mengapa aku memilih bunga-bunga sebagai dekorasi ruangan pameran."
"Ke mana gadis itu sekarang? Apa kau tahu?"tanyaku. Ia menggeleng.
"Apa mungkin aku mengenalnya?"
"Haha... kau sungguh ingin membantuku?"tanya Leon.
"Kalau memungkinkan...,"ujarku sedikit tak yakin.
"Alasan mengapa aku datang ke perpustakaan itu karena dulu aku suka memandanginya dari sana saat ia berjalan melewati depan perpustakaan. tapi sayang saat aku ke sana aku tidak bisa menemukannya."
" aku sempat berharap saat kau mengatakan berasal dari fakultas seni, kupikir kau mungkin mengenalnya. Ia dulu adalah gadis yg populer di fajultas seni musik, khususnya untuk kelas piano. di ruang pertunjukan, ia mengajariku memankan piano untuk pertama kalinya sekaligus untuk yv terakhir kali. entah ada di mana dia saat ini. aku sangat merindukannya...."
seketika aku teringat akan mimpiku beberapa wajtu lalu. suara seorang gadis di mimpiku juga mengatakan hal yg sama.
" kapan terakhir kali kau bertemu dengannya?" tanyaku.
" aku pikir... sehari sebelum kecelakaan itu. saat itu kami bertemu di halte bus depan kampus, kami sedang membicarakan pertunjukan solonya yg akan diadakan di hari kepergianku ke Inggris. aku sangat menyesal karena sehari setelah itu aku yg berencana bertemu dg nya di halte mengalami kecelakaan. sejak hari itu aku pikir aku telah kehilangan kesempatan untuk bertemu dengannya lagi."
setelah mendengar ceritanya yg menyedihkan itu aku menjadi kasihan kepadanya. aku pun semakin tergerak untuk membantunya mencari Haru.
"kak, sepertinya aku akan pulang terlambat. kau pulanglah duluan tidak usah menungguku."
hari ini aku berencana mencari tahu keberadaan Haru di kampus ini. walupun sepertinya akan sulit , tapi aku yakin pasti bisa menemukannya. segala cara kugunakan untuk mencarinya mulai dari mencari di buku tahunan kelulusan hingga bertanya langsung pada staf pengajar. sampai pada akhirnya saat sore itu aku berjalan menuju taman di depan perpuatakaan aku melihat seorang gadis yg sama saat di halte bus sedang melukis.
aku menghampirinya, memperhatikan caranya melukis dari balik kanvas. "Haru..."
aku berjalan mendekatinya sambil tersenyum. entah mengapa aku seakan tahu kalau gadis itu adalah Haru.
" kau tidak seharusnya mengendap-endap seperti itu. kemari, akan kutunjukan lukisanku padamu. memang tidak seprofesional milikmu sih tapi kupikir aku punya bakat,"ujar gadis itu sambil menatapku dg senyuman. seolah aku ini adalah org yg sangat dekat dgnya.
" kau memang memiliki bakat seni melukis, Haru..." sebuah tangan lalu mengelus kepalanya dan gadis itu tersenyum. suara itu.... itu seperti suara Leo. apakah ini adalah sebuah kenangan? apa sekarang aku telah masuk ke dalam kenangan mereka berdua?
tiba - tiba saja penglihatanku kabur dan aku terkulai lemas. beberapa saat setelah itu aku terbangun di sebuah kamar runah sakit dan melihat Haru tertidur dengan selang-selang terhubung ke tubuhnya. apa dia saki? sebenarnya apa yg terjadi padanya? apa Leo mengetahui ini?
Seseorang kemudian datang dengan seorang dokter beserta dua orang suster. "lakukanlah dokter , kalau itu yg terbaik untuknya. aku ikhlas..." ujar lelaki paruh baya itu sambil menahan tangisnya. " maafkan kami Haru, tidak ada cara lain. ayahmu pun sudah menyerah. maafkan kami.." ujar sang dokter. selang, infus dan semua peralatan medis itu pun dilepaskan dari tubuh Haru. aku yg menyaksikan hal itu pun tak kuasa untuk menahan tangisku. akhirnya Haru telah tiada, tangan itu terkulai lemas dan menyisakan kesedihan.
...
3 tahun kemudian.
" apa!? "
" ya akhirnya ia melakukannya, kak..." ujarku.
"tapi... kau yakin? apakah ia sudah melupakan semuanya?" desak kakakku. aku hanya tersenyum sambil menggenggam tangannya.
"baiklah... aku merestuimu dg nya. tapi dengan satu syarat, bahwa walaupun kau sudah menjadi istrinya bukan berarti kalian akan meninggalkanku," pinta Randy.
" iyaaaa kakakkuuuu, hahaha...."
sudah tiga tahun berlalu dan aku sudah sesukses ini, aku sekarang bekerja sebagai pianis profesional dan sudah berhasil menggelar pertunjukan sendiri di berbagai daerah dan negara.
kakakku pun sampai berjanji padaku akan selalu menghadiri pertunjukanku dan tidak akan pernah absen. Tak hanya itu akhirnya aku mendapatkan belahan jiwaku setelah kuppikir bahwa kakakkulah belahan jiwaku. mungkin ini yg dinamakan takdir. aku pun tak menyangka bahwa Leo menyukaiku. di hari itu, aku menceritakan semua yg yelah kualami kepadanya. Leo tak kuasa menyalahkan dirinya sendiri.
Ia merasa sgt bersalah karena di hari meninggalnya Haru ia tidak ada di sampingnya. Bahkan ia selama ini tidak pernah tahu kalau ternyata Haru memiliki penyakit serius. Selama ini Haru berhasil menyembunyikan penyakitnya dari Leo. Setelah aku menceritakan hal itu pada Leo, beberapa hari kemudian Leo berkunjung ke rumah keluarga Haru. Seperti yg diceritajan oleh ayahnya Haru, Leo memberitahuku bahwa selama Leo pergi Haru selalu menunggunya di halte tempat mereka berjanji bertemu. Akan tetapi, ternyata penyakit kanker perut yg diderita Haru semakin parah. Ia pun harus dirawat di rumah sakit sampai ajalnya menjemput. Selama 2 tahun itulah Haru bertahan menghadapi penyakitnya dan menunggu kedatangan Leo.
" aku tahu piano adalah segalanya bagimu... sama sepertinya. Ia pun juga menginginkanku melihatnya bermain piano di pertunjukannya. Tapi, aku kini tidak akan melewatkan semuanya begitu saja. Aku tidak ingin mengulang kesalahan yg sama. Aku akan selalu berada di dekatmu, menjalani hari-hari bersamamu dan takkan membuatmu menungguku kembali, karena mulai hari ini sampai akhir nanti akulah, tujuanmu. Aku ... rumahmu..." Leo memelukku dan mengecup keningku. sorak sorai gembira pun memenuhi ruang pernikahan. Bunga-bunga yg menghiasi ruangan ini pun aeolah menyambut kegembiraan kami, dan aku merasakan kehadiran Haru tersenyum memandangi kami.
... "apa kau tahu, haru itu berarti musim semi... dulu ibuku melahirkanku di saat bunga-bunga sedang bermekaran. Lagu ini, yg kumainkan saat aku pertama kali melihatmu melukis di taman itu. Saat itu aku terpesona dengan karismamu, dan aju berkhayal kita akan menjadi pasangan yg sgr serasi. Di masa depan aku akan menjadi pianis ternama dan kau... kau akan menjadi rumahku." - HARU
...
sebuah bus berhenti, akhirnya bus yang kutunggu datang juga. aku bangkit dari tempat dudukku, saat itu tiba-tiba sesosok wanita berambut panjang berdiri di ambang pintu masuk bus. sedang apa orang ini? tidakkah ia berpikir kalau ia menghalangi jalanku?
"maaf, permisi...," ujarku. wanita itu pun pergi dan berdiri di pingir halte, memandang ke tengah jalan. aku pun memasuki bus dan duduk di dekat jendela. memandangi wanita itu, sepertinya ia sedang menunggu. entah menunggu siapa atau apa, tatapannya tertuju pada jalanan yg sepi.
Keesokan harinya di perpustakaan kampus, aku sedang membaca buku untuk bahan ujianku dan tiba-tiba ada seorang lelaki terjatuh dari kursinya. Aku yg duduk paling dekat dengannya saat itu langsung menolongnya. "Apa kau baik-baik saja?" kataku sambil berusaha mendudukkannya di kursi. "Ya,teima kasih...."
setelah membantunya duduk,aku kembali ke kursiku. Aku memang tidak mengenalnya,tapi beberapa kali aku pernah melihatnya di sini. Aku pikir mungkin dia dari fakultas lain.
Hari semakin sore dan sore pun menjelang malam. Aku segera berkemas pulang,seperti biasa aku selalu menunggu bus pukul 8 malam di halte depan kampus. Saat busku datang wanita berambut panjang yg kulihat kemarin itu datang lagi. Ia turun dari bus dan berdiri di pinggir jalan di halte. Sampai bus berjalan,ia masih berdiri di sana. Dari dalam bus aku memperhatikannya dengan penasaran. Gadis itu memandangi jalan di depannya dengan sedih,seakan sangat berharap sesuatu datang. Entah apa yg diharapkan gadis itu, tapi aku seakan bisa merasakan kesedihannya.
Paginya aku terbangun dari tidurku dg perasaan aneh. Semalam aku bermimpi aneh,ada sebuah tangan terkulai lemas di samping tempat tidur. Aku tidak tahu tangan siapa itu dan di mana aku saat itu. Mimpi yg sangat aneh namun seakan aku terlibat di dalamnya. Hari demi hari berlalu dan aku tidak tahu apa yg terjadi padaku karena terus memikirkan mimpi itu,seakan mimpi itu sebuah magnet yg menarikku ke dalamnya. Beberapa hari ini aku tidak lagi pulang dengan bus,seorang teman menitipkan motornya padaku karena sdang keluar kota sehingga aku menggunakan motor itu selama pergi kuliah.
"Maaf... boleh aku duduk di sini?" Lelaki yg waktu itu aku tolong rupanya. "Ah ya... silakan,"ujarku. "Kulihat kau sering ke perpustakaan..."ujarnya. "Ya... aku memang suka ke sini,"kataku membenarkan. Lelaki itu tersenyum padaku. "Apa kau mahasiswa di sini?"tanyaju. "Hmm... dulu, aku sudah tidak di sini lagi," matanya kemudian tertuju ke jendela.
"Oh begitu,jadi... apa kau alumni?"
Dia menggeleng dan menatapku. "Aku pindah beberapa tahun lalu ke Inggris,aku meneruskan kuliahku di sana hingga lulus." "Wah pasti rindu yg membawamu ke sini,"kataku bergurau.
Lagi-lagi lelaki itu tersenyum. "Kau benar...."
aku pun ikut tersenyum mendengarnya.
"Kau berasal dari fakultas apa?"tanyanya kemudian. "Seni... aku bermain piano." Dengan malu-malu aku menjawab. "Piano... dulu aku memainkannya...,"ujarnya lirih.
"Benarkah?apa kau jg dari fakultas seni musik?" Tanyaku antusis. Ia tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Aku mengambil seni rupa. Aku melukis..."
"Oh begitu, jadi... apa sekarang kau pelukis?"
"Ya seperti itulah." Tak terasa hari pun semakin sore dan kami berbincang panjang lebar. "Sampai nanti"
"Ya sampai nanti,"ujarku. Lelaki itu berjalan menuju parkiran,membelakangiku. Sesaat aku berpikir, kami belum memeperkenalkan nama kami masing-masing. Aku pun berlari mengejarnya hingga ke parkiran,tapi ia terlalu cepat dan aku kehilangan dirinya.
Mungkin kami memang tidak ditakdirkan saling mengenal lebih jauh, keluhku. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi mengambil motorku dan segera pulang.
Di perjalanan pulang dengan motorku, aku melewati halte di mana biasanya aku menunggu bus. Karena malam itu sedikit mengantuk,aku hampir saja menabrak seseorang. Kuhentikan motorku dan kupandangi gadis di depanku dengan terkejut. "Apa kau tidak apa?!" Aku pun segera turun dari motorku ,"maaf aku tidak fokus karena mengan... tuk,"wajahku membeku setelah melihat gadis itu sudah tidak ada di depanku. Ke mana perginya gadis itu?
Kulihat sekelilingku,tidaj ada seorang pun di sana kecuali aku. Jalanan pun sepi dan hanya ada sebuah bus yg baru saja melintasi jalanan. Aku mulai merinding dan bergegas menuju motorku.
"Aku merindukanmu..."
Apa maksud dari mimpi itu?
"Aku merindukanmu...."gumamku lirih. "Aku juga!"
Aku menoleh ke arah suara itu. "Randy!?" Seruku pada seorang lelaki yg berdiri di depanku. "Aku juga merindukanmu,"ujarnya sambil membentangkan tangannya lebar-lebar. Aku pun langsung melompat ke pelukannya tanpa menghiraukan seisi perpustakaan.
"Adikku ternyata sudah bertambah tinggi,"ujar kakakku sambil mengelus kepalaku. "Kakak, kenapa kau tidak menghubungiku ?"
Betapa senangnya aku ketika melihat kakakku yang sangat kusayangi ini datang menemuiku. Randy adalah kakak laki-laki satu-satunya yg aku punya. Ia adalah satu-satunya keluarga yg aku miliki. Selama ia bekerja di Jepang, ia selalu mengirimkanku uang untuk biaya sehari-hariku di sini. Ia percaya bahwa suatu saat aku akan menjadi sesukses dirinya atau bahkan melebihinya.
Hari itu kami menghabiskan waktu bersama-sama sambil berkeliling kampus dengan motorku. Kakakku tidak percaya aku bisa mengendarai motor. Hahaha. Katanya di Jepang jarang sekali wanita bisa mengendarai motor. Bahkan karena ia ingin melihatku mengendarai motor,akhirnya saat itu akulah yg mengendarai dan ia duduk dengan gembira di belakangku.
"Apa kau sudah memiliki kekasih?"tanya Randy dengan nada menggoda. "Sayangnya sih tidak...."
"Apa?!"
"Hei apakah semengejutkan itu ya?"
"Kau tidak jelek dan tidak bodoh,kenpa tidak ada lelaki yg tertarik padamu?"
Kami pun tertawa bersama mendengar percakapan kami sendiri. Piano, segalanya bagiku setelah kakakku. Di hidupku kakakkulah prioritas pertama dan piano adalah hal yg memebuatku bertahan setelah kakakku pergi meninggalkanku.
"Apa yg kau lakukan selama di Jepang?"tanyaku saat kami bersantai di ruang tengah. "Terlalu banyak untuk kuceritakan,"ujarnya dengan senyuman di wajahnya. "Ayolah, kau kan tak pernah bercerita tentang kehidupanmu selama di sana. Sekalinya kau mengirimiku email atau pesan kau hanya menasihatiku."
"Haha... baiklah... sebenarnya aku memang sudah banyak melakukan banyak hal di sana yg tidak bisa kuceritakan padamu secara gamblang. Akan tetapi, kenapa aku bisa ada di sini sekarang adalah karena takdir."
"Maksudmu apa?"tanyaku bingung.
"Aku mendapat izin untuk menetap di sini bersamamu, karena ada seorang pelukis muda yg naik daun memutuskan menggelar pameran di tempat ini. Kebetulan pelukis itu juga berasal dari sini dan pihak agensinya memilih perusahaanku untuk mengurus kerja sama kami dengannya. Jadi aku bisa kembali bersamamu lagi sekarang tanpa menghiraukan pekerjaanku,"jelasnya.
"Itu bagus sekali... aku sangat senang akhirnya bisa bersamamu lagi kak."
Hari demi hari berlalu dengan kebersamaabn kami yg sudah lama kunantikan. Aku dan Randy sangat bahagia karena akhirnya bisa bersama kembali. Di hari pertunjukan musikku yg pertama aku mengundangnya sebagai wali sekaligus tamu isyimewaku. Aku senang ia bisa melihat pertunjukan perdanaku. Ini adalah pertunjukan solo pertamaku setelah sekian lama. Jika pertunjuka ini berhasil dan memukau para pengunjung dan juri maka aku dianggap lulus ujian. Tak hanya itu aku akan direkomendasikan untuk mengikuti pertunjukan pianis ternama di negri ini. Randy sangat bangga padaku hari itu. Ia meneteskan air matanya ketika aku memainkan jemariku di atas tuts piano. Tidak hanya dirinya, aku pun terharu hampir meneteskan air mata ketika itu. Semua yg kulakukan untukku dan kakakku akhirnya terbayar sudah. Tak lama aku pun diwisuda dan menjadi lulusan kedua terbaik di fakultasku.
"Kamelia... selamat atas semua pencapaian yg telah kau capai hingga saat ini,"ujar kakakku sambil memberikan sebuah amplop padaku. "Apa ini?" Aku pun membuka amplop itu dan ternyata isinya adalah sebuah undangan untuk sebuah paneran lukisan yg diselenggarakan olehnya. Ia akan mengajakku ke acara yg diselenggarakan olehnya dan perusahaannya di mana seorang pelukis yg pernah ia ceritakan dululah yg menjadi bintang utamanya.
Pameran itu sangat megah dan indah paduan suasana malam dan bunga-bunga yg berasal dr seluruh penjuru dunia menghiasi seisi ruangan. Bahkan ada sebuah taman di tengah-tengah ruang pameran dan di sekelilingnya terpampang beberapa lukisan seorang gadis yg sedang bermain piano membelakangi pengunjung.
"Lukisan ini terlihat misterius,"ujarku pada Randy. "Ini adalah lukisan paling berharga dari sang pelukis,"jelas kakakku.
Kakakku pun mulai bercerita, ia mendengar bahwa sang pelukis dahulu pernah memainkan piano dan gadis itulah yg memperkenalkannya pada piano. Tak lama ia terpaksa harus menempuh pendidikan di Inggris dan berpisah dengan gadis itu. Akan tetapi,tak disangka pelukis itu mengalami kecelakaan sebelum pergi ke Inggris. Ia lalu kehilangan komunikasi dengan sang gadis. Entah ada di mana sang gadis saat ini. Pelukis itu pun tak pernah mendengar kabarnya lagi.
"Menyedihkan... siapa nama gadis itu?"tanyaku pada Randy. Ia hanya mengangkat bahunya tidak tahu.
"Haru..."
aku dan kakakku menoleh ke arah suara yg datang dari belakang kami. "
"Leo?"sapa kakakku pada lelaki itu. "Hai.... senang bertemu lagi,"ujar Leo padaku. "Jadi kau sudah mengenal adikku?"tanya Randy pada Leo.
"Jadi... kau pelukis itu...?" Kataku sambil menatapnya malu.
"Ternyata dunia ini sempit sekali ya, aku mengenalmu di kampus lamaku dan kita bertemu lagi di tempat ini. Sebelumnya kita belum berkenalan kan. Aku Leonard,"ujarnya sambil menjabat tanganku. "Aku Kamelia... senang bisa berkenalan denganmu."
Tak lama setelah itu Randy pergi meninggalkan kami berdua, ada pekerjaan yg harus ia urus. "Jadi apa kau tertarik dengan lukisan ini?"tanya Leon melirik ke lukisan gadia itu. "Ah..bukan begitu. Aku hanya tertarik dengan cerita di balik lukisan ini,"jawabku.
"Kau tahu, Haru berarti musim semi. Itu mengapa aku memilih bunga-bunga sebagai dekorasi ruangan pameran."
"Ke mana gadis itu sekarang? Apa kau tahu?"tanyaku. Ia menggeleng.
"Apa mungkin aku mengenalnya?"
"Haha... kau sungguh ingin membantuku?"tanya Leon.
"Kalau memungkinkan...,"ujarku sedikit tak yakin.
"Alasan mengapa aku datang ke perpustakaan itu karena dulu aku suka memandanginya dari sana saat ia berjalan melewati depan perpustakaan. tapi sayang saat aku ke sana aku tidak bisa menemukannya."
" aku sempat berharap saat kau mengatakan berasal dari fakultas seni, kupikir kau mungkin mengenalnya. Ia dulu adalah gadis yg populer di fajultas seni musik, khususnya untuk kelas piano. di ruang pertunjukan, ia mengajariku memankan piano untuk pertama kalinya sekaligus untuk yv terakhir kali. entah ada di mana dia saat ini. aku sangat merindukannya...."
seketika aku teringat akan mimpiku beberapa wajtu lalu. suara seorang gadis di mimpiku juga mengatakan hal yg sama.
" kapan terakhir kali kau bertemu dengannya?" tanyaku.
" aku pikir... sehari sebelum kecelakaan itu. saat itu kami bertemu di halte bus depan kampus, kami sedang membicarakan pertunjukan solonya yg akan diadakan di hari kepergianku ke Inggris. aku sangat menyesal karena sehari setelah itu aku yg berencana bertemu dg nya di halte mengalami kecelakaan. sejak hari itu aku pikir aku telah kehilangan kesempatan untuk bertemu dengannya lagi."
setelah mendengar ceritanya yg menyedihkan itu aku menjadi kasihan kepadanya. aku pun semakin tergerak untuk membantunya mencari Haru.
"kak, sepertinya aku akan pulang terlambat. kau pulanglah duluan tidak usah menungguku."
hari ini aku berencana mencari tahu keberadaan Haru di kampus ini. walupun sepertinya akan sulit , tapi aku yakin pasti bisa menemukannya. segala cara kugunakan untuk mencarinya mulai dari mencari di buku tahunan kelulusan hingga bertanya langsung pada staf pengajar. sampai pada akhirnya saat sore itu aku berjalan menuju taman di depan perpuatakaan aku melihat seorang gadis yg sama saat di halte bus sedang melukis.
aku menghampirinya, memperhatikan caranya melukis dari balik kanvas. "Haru..."
aku berjalan mendekatinya sambil tersenyum. entah mengapa aku seakan tahu kalau gadis itu adalah Haru.
" kau tidak seharusnya mengendap-endap seperti itu. kemari, akan kutunjukan lukisanku padamu. memang tidak seprofesional milikmu sih tapi kupikir aku punya bakat,"ujar gadis itu sambil menatapku dg senyuman. seolah aku ini adalah org yg sangat dekat dgnya.
" kau memang memiliki bakat seni melukis, Haru..." sebuah tangan lalu mengelus kepalanya dan gadis itu tersenyum. suara itu.... itu seperti suara Leo. apakah ini adalah sebuah kenangan? apa sekarang aku telah masuk ke dalam kenangan mereka berdua?
tiba - tiba saja penglihatanku kabur dan aku terkulai lemas. beberapa saat setelah itu aku terbangun di sebuah kamar runah sakit dan melihat Haru tertidur dengan selang-selang terhubung ke tubuhnya. apa dia saki? sebenarnya apa yg terjadi padanya? apa Leo mengetahui ini?
Seseorang kemudian datang dengan seorang dokter beserta dua orang suster. "lakukanlah dokter , kalau itu yg terbaik untuknya. aku ikhlas..." ujar lelaki paruh baya itu sambil menahan tangisnya. " maafkan kami Haru, tidak ada cara lain. ayahmu pun sudah menyerah. maafkan kami.." ujar sang dokter. selang, infus dan semua peralatan medis itu pun dilepaskan dari tubuh Haru. aku yg menyaksikan hal itu pun tak kuasa untuk menahan tangisku. akhirnya Haru telah tiada, tangan itu terkulai lemas dan menyisakan kesedihan.
...
3 tahun kemudian.
" apa!? "
" ya akhirnya ia melakukannya, kak..." ujarku.
"tapi... kau yakin? apakah ia sudah melupakan semuanya?" desak kakakku. aku hanya tersenyum sambil menggenggam tangannya.
"baiklah... aku merestuimu dg nya. tapi dengan satu syarat, bahwa walaupun kau sudah menjadi istrinya bukan berarti kalian akan meninggalkanku," pinta Randy.
" iyaaaa kakakkuuuu, hahaha...."
sudah tiga tahun berlalu dan aku sudah sesukses ini, aku sekarang bekerja sebagai pianis profesional dan sudah berhasil menggelar pertunjukan sendiri di berbagai daerah dan negara.
kakakku pun sampai berjanji padaku akan selalu menghadiri pertunjukanku dan tidak akan pernah absen. Tak hanya itu akhirnya aku mendapatkan belahan jiwaku setelah kuppikir bahwa kakakkulah belahan jiwaku. mungkin ini yg dinamakan takdir. aku pun tak menyangka bahwa Leo menyukaiku. di hari itu, aku menceritakan semua yg yelah kualami kepadanya. Leo tak kuasa menyalahkan dirinya sendiri.
Ia merasa sgt bersalah karena di hari meninggalnya Haru ia tidak ada di sampingnya. Bahkan ia selama ini tidak pernah tahu kalau ternyata Haru memiliki penyakit serius. Selama ini Haru berhasil menyembunyikan penyakitnya dari Leo. Setelah aku menceritakan hal itu pada Leo, beberapa hari kemudian Leo berkunjung ke rumah keluarga Haru. Seperti yg diceritajan oleh ayahnya Haru, Leo memberitahuku bahwa selama Leo pergi Haru selalu menunggunya di halte tempat mereka berjanji bertemu. Akan tetapi, ternyata penyakit kanker perut yg diderita Haru semakin parah. Ia pun harus dirawat di rumah sakit sampai ajalnya menjemput. Selama 2 tahun itulah Haru bertahan menghadapi penyakitnya dan menunggu kedatangan Leo.
" aku tahu piano adalah segalanya bagimu... sama sepertinya. Ia pun juga menginginkanku melihatnya bermain piano di pertunjukannya. Tapi, aku kini tidak akan melewatkan semuanya begitu saja. Aku tidak ingin mengulang kesalahan yg sama. Aku akan selalu berada di dekatmu, menjalani hari-hari bersamamu dan takkan membuatmu menungguku kembali, karena mulai hari ini sampai akhir nanti akulah, tujuanmu. Aku ... rumahmu..." Leo memelukku dan mengecup keningku. sorak sorai gembira pun memenuhi ruang pernikahan. Bunga-bunga yg menghiasi ruangan ini pun aeolah menyambut kegembiraan kami, dan aku merasakan kehadiran Haru tersenyum memandangi kami.
... "apa kau tahu, haru itu berarti musim semi... dulu ibuku melahirkanku di saat bunga-bunga sedang bermekaran. Lagu ini, yg kumainkan saat aku pertama kali melihatmu melukis di taman itu. Saat itu aku terpesona dengan karismamu, dan aju berkhayal kita akan menjadi pasangan yg sgr serasi. Di masa depan aku akan menjadi pianis ternama dan kau... kau akan menjadi rumahku." - HARU
Komentar
Posting Komentar